Rabu, 28 Januari 2015
Dampak Masturbasi Bagi Pria & Wanita
Benarkah masturbasi merupakan bentuk penyimpangan perilaku seksual? Apakah hanya pria yang melakukan masturbasi? Banyak hal seputar masturbasi yang kerap dipertanyakan, sehingga menimbulkan berbagai mitos yang belum bisa dipastikan kebenarannya.
Namun ada empat mitos yang jelas salah namun sering dianggap benar oleh banyak orang. Ini dia mitos-mitos seputar masturbasi yang keliru, seperti dikutip dari Intimate Medicine.
1. Masturbasi, Seks yang Tidak Normal
Banyak anggapan bahwa masturbasi adalah perilaku seks yang menyimpang. Faktanya, masturbasi adalah hal yang sangat wajar terjadi pada pria maupun wanita. Masturbasi merupakan bentuk rangsangan seksual yang diakhiri dengan orgasme, hanya saja tidak melibatkan pasangan.
Seorang seksolog, Dr. Deidre seperti dikutip dari The Sun mengungkapkan bahwa tak ada yang salah dari perilaku tersebut. Menurut Deidre, jika ada orang yang mengalami masalah untuk mencapai orgasme, biasanya mereka dianjurkan untuk mempelajari cara masturbasi. Hal itu dilakukan agar mereka tahu mengenai apa yang membuat mereka puas dan diharapkan dapat mengomunikasikan hal itu pada pasangan masing-masing.
Masturbasi bisa dikatakan bermasalah atau tidak normal, jika dilakukan karena seseorang merasa tidak puas dengan performa pasangannya. Hal itu mengindikasikan ada masalah dalam kehidupan seksual mereka dan sebaiknya segera konsultasikan dengan ahli.
2. Masturbasi Berbahaya Bagi Kesehatan
Banyak anggapan yang menyebut bahwa masturbasi adalah salah satu bentuk dari penyimpangan seksual. Mitos yang selama ini beredar, masturbasi bisa menurunkan kualitas sperma, melukai alat vital bahkan menimbulkan kebutaan.
Faktanya, masturbasi sama sekali tidak berbahaya jika dilakukan secara benar dan wajar. Masturbasi tidak menimbulkan risiko apabila dilakukan satu bulan sekali, atau maksimal tiga kali sehari. Tapi perlu diwaspadai jika masturbasi mulai dilakukan secara kompulsif, yang artinya, kemampuan untuk menahan hasrat seksual tak bisa lagi dibendung sehingga timbul perilaku seksual yang menyimpang. Untuk masalah ini, disarankan minta saran dari psikiater dan terapis seks.
3. Hanya Pria yang Melakukan Masturbasi
Secara statistik, masturbasi lebih umum di kalangan pria. Tapi bukan berarti wanita tidak pernah melakukan masturbasi. Untuk meningkatkan kepuasaannya dalam bercinta, wanita pun kerap bermasturbasi dan biasanya menggunakan sex toys.
Wanita yang suka masturbasi perlu waspada karena jika tidak hati-hati, bisa merusak selaput dara. Selaput dara terletak di mulut Miss V, area itu berupa lipatan mukosa yang bentuknya tidak sama antara satu wanita dengan wanita lain. Ada yang berupa lipatan mukosa melingkari dinding vagina, ada juga yang berupa membran berlubang-lubang di mulut vagina. Kelenturan dari selaput dara ini juga berbeda-beda pada tiap wanita, ada yang mudah robek dan ada yang sangat lentur sehingga sulit untuk terjadinya robekan.
4. Hanya Pria/ Wanita Single yang Melakukan Masturbasi
Masturbasi memang kerap dilakukan individu yang masih hidup sendiri untuk memuaskan hasrat seksnya. Namun berdasarkan survei, masturbasi juga kadang dilakukan pasangan yang sudah menikah. Alfred Kinsey, biolog asal Amerika Serikat pernah melakukan survei mengenai perilaku seksual pada awal abad 20. Dari hasil survei, Kinsey menemukan sekitar 40% pria dan 30% wanita yang terikat dalam jalinan asmara dan berhubungan seksual, juga melakukan masturbasi secara rutin.
Kamis, 22 Januari 2015
Semakin Tua Mr.P semakin menyusut
Umur mempengaruhi fungsi seksual seorang pria. Saat testoteron dalam
tubuh mulai menurun, butuh waktu lebih lama bagi pria berumur untuk
mencapai gairah seksual. Meski sudah terangsang, dia butuh waktu lebih
lama untuk ereksi dan mencapai orgasme. Setelah orgasme, dia juga butuh
upaya lebih lama untuk bisa terangsang dan orgasme lagi.
Menurut para ahli, faktor usia juga berpengaruh dalam menentukan volume
semen dan kualitas sperma seorang pria. Impotensi atau disfungsi ereksi
juga berkaitan dengan usia yang semakin tua; yakni dapat terjadi di usia
40 hingga 70. Suatu penelitian menunjukkan, kejantanan kaum Adam bisa
menurun 60 hingga 30 persen.
Kabar buruk yang lain, kaum pria juga bakal mengalami penurunan secara
alami dalam hal fungsi urine. Penelitian menunjukkan bahwa aliran urine
akan semakin melemah, yang merupakan konsekuensi melemahnya otot kandung
kemih serta pembesaran prostat.
Dan, itu saja belum cukup. Riset terbaru menyatakan bahwa ukuran dan
bentuk penis akan mengalami perubahan yang signifikan ketika seorang
pria mulai beranjak dari masa puncak seksualitasnya (usia 30-an) menuju
usia pertengahan dan usia lanjut. Berikut adalah empat perubahan yang
terjadi secara alami pada penis pria seiring bertambahnya usia:
1. Penampilan
Menurut Irwin Goldstein, MD, direktur pengobatan seksual pada RS
Alvarado di San Diego yang juga Editor-in-Chief The Journal of Sexual
Medicine, ada dua perubahan besar yang akan terjadi pada Mr P. Kepala
penis (glans) secara teratur akan kehilangan warna keunguannya, yang
merupakan tanda mulai berkurangnya aliran darah. Selain itu, akan ada
kerontokan pada rambut pubis secara perlahan.
2. Ukuran penis
Penambahan berat badan adalah hal yang lumrah ketika pria semakin
bertambah tua. Ketika lemak terkumpul di perut bagian bawah, penampakan
ukuran penis pun akan berubah. "Timbunan lemak yang banyak pada bagian
prepubis membuat poros penis terlihat lebih pendek," kata Ira Sharlip,
MD, profesor urologi klinis pada University of California, San
Francisco.
"Pada beberapa kasus, timbunan lemak di perut membuat penis terpendam.
Salah satu cara memotivasi pasien kegemukan adalah dengan mengatakan
kepada mereka bahwa ukuran penis bisa bertambah lagi hingga satu inci
dengan sederhana, yakni memangkas berat badan," kata Ronald Tamler, MD,
PhD, Co-Director Men's Health Program di Mount Sinai Hospital, New York
City.
Selain mengalami penyusutan dari sisi tampilan (sifatnya reversibel),
penis juga cenderung dapat mengalami penyusutan dari sisi ukuran yang
sebenarnya (ireversibel). Penyusutan ini—baik dalam hal penjang maupun
ketebalan—tidak akan terjadi secara dramatis, tetapi tampak nyata. "Jika
seorang pria saat ereksi berukuran 6 inci ketika di usia 30-an, mungkin
saja akan berubah menjadi 5 atau 5,5 inci ketika ia menginjak usia 60
atau 70-an," kata Goldstein.
Apa yang membuat Mr P menyusut? Ada dua hal yang menjadi penyebabnya.
Yang pertama adalah akibat pengendapan dari zat-zat lemak (plak) di
dalam pembuluh darah penis, yang memengaruhi aliran darah ke dalam organ
vital tersebut. Proses ini disebut sebagai aterosklerosis, mekanisme
serupa yang menyebabkan penyumbatan dalam pembuluh darah koroner—yang
menjadi pemicu serangan jantung.
Penyebab kedua adalah penimbunan kolagen yang tidak elastis (jaringan
parut) secara perlahan di dalam sarung fibrous yang melapisi bilik
ereksi (erection chambers). Ereksi sendiri terjadi ketik bilik-bilik ini
penuh dengan aliran darah. Penyumbatan dalam pembuluh arteri penis—dan
makin tidak elastisnya bilik ini—akan membuat ereksi semakin tidak
maksimal.
Seperti halnya ukuran penis yang berubah, bagian testis juga mengalami
hal yang sama. "Dimulai pada usia sekitar 40, testis akan mulai
menyusut," kata Goldstein. Testis pria berusia 30 tahun mungkin memiliki
diameter berukuran 3 cm, sedangkan pria berusia 60 mungkin hanya
sekitar 2 cm.
3. Melengkung
Jika jaringan parut dalam penis terakumulasi secara tidak merata, penis
ternyata bisa melengkung. Kondisi ini dikenal dengan istilah penyakit
Peyronie, yang sering menimpa pria di usia menengah. Kelainan ini bisa
menyebabkan ereksi terasa sangat menyakitkan dan membuat hubungan intim
menjadi sulit. Untuk mengatasi gangguan ini, biasanya dibutuhkan
tindakan operasi.
4. Sensitivitas
Sejumlah riset menunjukkan bahwa penis seiring waktu akan menjadi kurang
sensitif. Hal ini akan mempersulit pria mencapai ereksi atau pun
mengalami orgasme. Tetapi, apakah hal ini juga akan mengurangi
kenikmatan dalam berhubungan seksual tentu masih diperdebatkan.
Bukan halangan dalam menikmati seks
Jika memang semua hal ini dialami oleh Anda, para ahli berpendapat
penurunan fungsi atau perubahan bentuk pada organ vital tak perlu
membuat kehidupan seks Anda menjadi terganggu.
Studi terbaru melibatkan 2.213 pria di Olmstead County, Minnesotta,
menunjukkan bahwa para responden mengalami penurunan dalam hal fungsi
ereksi, libido, dan fungsi ejakulatori. Tetapi, dari segi kepuasan
seksual, penurunannya tidak terlalu dominan alias masih moderat.
"Hal terpenting dalam mencapai kehidupan seks yang memuaskan adalah
kemampuan untuk memuaskan pasangan Anda, dan itu tidak membutuhkan
kemampuan seksual pada level puncak atau penis yang besar," ungkap
Goldstein.

